Thursday, May 17, 2012


POLA TATA RUANG DALAM RUMAH TINGGAL KUNO DESA BAKUNG
KECAMATAN UDANAWU BLITAR
(The Spatial Structure Patterns of Ancient Houses in Bakung Village Udanawu District Blitar)



Siti Maria Ulfa, Antariksa, Ema Yunita Titisari
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
E-mail: memer_dw@yahoo.co.id



ABSTRACT

The spatial structures of the ancient house in the village of Bakung, Udanawu District, Blitar have uniqueness on spatial changes thus forming a distinctive pattern. This change caused a change in mindset, one of which is influenced by the rapid modernization process of the modern information flow. The uniqueness comes with an adjustment to the condition of their home environment before making any changes. The purpose of this study was to determine the spatial structure pattern, the pattern changes and the factors influencing changes in the pattern. This study uses descriptive methods with historical approach. The study shows the spatial pattern of houses in this village. Changes in spatial structure patterns happen to create a new function, reduced function which may lead to changes in the type of space, symmetry, organization and hierarchy of space. Of these changes led to old-modern conception of the spatial structure pattern of it. Factors affecting change is the basic human needs, new technologies, life style, economy factor, inheritance system and cultures.

Keywords: the spatial structure patterns inner, changes, ancient houses



ABSTRAK
Tata ruang dalam rumah kuno di Desa Bakung, Kecamatan Udanawu Blitar mempunyai keunikan pada perubahan tata ruang sehingga membentuk suatu pola tersendiri. Perubahan ini disebabkan adanya perubahan pola pikir yang salah satunya dipengaruhi proses modernisasi melalui cepatnya arus informasi modern. Keunikan ini muncul dengan adanya penyesuaian terhadap kondisi lingkungan rumahnya sebelum melakukan perubahan. Tujuan studi ini adalah mengetahui pola tata ruang, pola perubahannya serta faktor yang mempengaruhi perubahan pola tersebut. Studi ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan historis. Hasil studi menunjukkan pola tata ruang rumah di desa ini. Perubahan pola ruang terjadi untuk membuat fungsi baru, pengurangan fungsi yang dapat mengakibatkan perubahan jenis ruang, kesimetrisan, organisasi serta hirarki ruang. Dari perubahan ini memunculkan konsepsi lama-modern pada pola tata ruang dalamnya. Faktor yang mempengaruhi perubahan adalah kebutuhan dasar manusia, teknologi baru, gaya hidup, faktor ekonomi, system hak waris dan budaya.
 
Kata kunci: pola tata ruang dalam, perubahan, rumah tinggal kuno


Siti Maria Ulfa, Antariksa, Ema Yunita Titisari. 2011. Pola Tata Ruang Dalam Rumah Tinggal Kuno Desa Bakung Kecamatan Udanawu Blitar. Jurnal Tesa Arsitektur. Vol. 9 no. 2. Desember. Hlm. 71-81. ISSN: 1410-6094

Antariksa © 2012

Sunday, April 22, 2012


PERUBAHAN BENTUK BANGUNAN  BALE TANI DI DUSUN SADE LOMBOK TENGAH
(The Changes of Bale Tani Building in Sade Village Central Lombok)


Nur Fivi Anggraeny, Antariksa, Noviani Suryasari
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya


ABSTRACT

One of manifestations and evidences of Sasak’s culture is the structural shape of its traditional house. As one of local identities, Sasak’s traditional house at Sade village could not avoid the phenomenon of change. This study aims to identify and analyze the physical changes of Bale Tani construction. This study applies historical-qualitative-descriptive research method. The changes mostly happen in the house spatial layout and the door. The change of the door deals with its shape, material, and color. The changes also occur in the building facade by adding openings or vents as pathways of flowing air. The building element that does not change or being kept original and authentic is the roof, of its shape, material, and color as well. People do not change the roof because they feel quite comfortable with it. Besides, the roof is the most important part of the house because it reflects the main characteristic of a traditional house. 

Keywords: the changes of shape, Sasak’s traditional house, Bale Tani.


ABSTRAK

Salah satu bentuk dari bukti kebudayaan Sasak adalah bentuk bangunan rumah adatnya. Rumah tradisional Suku Sasak di Dusun Sade sebagai identitas lokal tidak luput dari fenomena perubahan. Studi ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis perubahan secara fisik yang terjadi pada bangunan Bale Tani.  Dalam studi ini, digunakan metode penelitian historis - kualitatif - deskriptif. Perubahan yang paling banyak muncul pada rumah tradisional, yakni perubahan pada ruang (denah) dan juga pada elemen pintu secara bentuk maupun material dan warna yang digunakan. Perubahan juga banyak terjadi pada fasade bangunan dengan adanya penambahan bukaan atau ventilasi sebagai jalur keluar masuknya udara. Elemen bangunan yang tidak berubah, yang masih dijaga keasliannya, yakni pada bentukan maupun material dan warna pada atap. Tidak dilakukan perubahan karena masyarakat sudah cukup nyaman dengan pemakaian atap tersebut. Atap merupakan bagian yang paling utama pada rumah karena atap mencerminkan ciri khas dari rumah tradisional.

Kata kunci: perubahan bentuk, rumah tradisional Sasak, bale tani.

Nur Fivi Anggraeny, Antariksa & Noviani Suryasari. 2011. Perubahan Bentuk Bangunan Bale Tani di Dusun Sade Lombok Tengah. Jurnal Tesa Arsitektur. 9 (2): 82-94. ISSN: 1410-6094.


© Antariksa 2012

Friday, March 23, 2012

CONSERVATION OF CHINATOWN AREA IN PASURUAN


Antariksa, Fadly Usman, Ika Puspitasari, Hany Perwitasari

Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Brawijaya, Malang Indonesia


ABSTRACT
The aims of this study are to identify and to analyze the changes of characteristic of Pasuruan's Chinatown through the element of area, history, socio culture, law consideration, and vernacular architecture, especially on façade and ornament of the building. The method used in this study is descriptive, evaluative, and explorative with a qualitative approach. The landmark is the Chinese temple, node is a center of activity, the district is the trading, and the path is roadways with grid systems. Objects of the research is building that can be classified into three periods of time built, the which are <1800-1840 period Empire style that has Indisch that quite famous in Indonesia since 18th century until 1840, the 1850-1890 period, the which represent two different styles the which are Voor 1900 1900 NA style and style, and from 1900 to 1945 period is more influenced by the which Romantiek 1915-1930 style. Perpetuation guide for the physical building preservation for seven buildings have high potential, conservation for 22 buildings have middle potential, and rehabilitation for 17 buildings have low potential. Perpetuation guide for the region are guidance for elements of area, activity limitation function, and make-region identity.

Keywords: characteristics, facade, ornaments, Chinatown.


Antariksa, Fadly Usman, Ika Puspitasari & Hany Perwitasari. 2012. Conservation of Chinatown Area in pasuruan. Journal of Applied Environmental and Biological Sciences (JAEBS). 2 (1):1-8. ISSN 2090-4215.

© Antariksa 2012


Thursday, April 28, 2011

Peunayong Chinetown Banda Aceh Post-Earthquake and Tsunami as Cultural Heritage District

Dian Kusuma Wardhani, Antariksa, Nanda Indira Sari

Department of Regional and Urban Planning, Faculty of Engineering, Brawijaya University, Malang, Indonesia


Abstract

This paper studied the Chinese ancient buildings degradation post-earthquake and tsunami and determined the direction of preservation as an effort to protect the cultural heritage of building and environment. The methodology consisted Crosstab Chi-square Analysis using the concept of Good City Form. Result was used in term of preserving Peunayong as cultural heritage district of Aceh.

Key Words: earthquake and tsunami, the ancient building, preservation, Chinatown.


Dian Kusuma Wardhani, Antariksa & Nanda Indira Sari. 2011. Peunayong Chinetown Banda Aceh Post-Earthquake and Tsunami as Cultural Heritage District. Journal of Basic and Applied Scientific Research. 1 (4): 275-282. ISSN 2090-424X.

Antariksa © 2011

Sunday, April 24, 2011

POLA PERMUKIMAN TRADISIONAL SUKU SASAK DUSUN LIMBUNGAN KABUPATEN LOMBOK

Rina Sabrina, Antariksa, Gunawan Prayitno
Jl. Mayjen Haryono 167, Malang 65145
Telp. 62-341-567886
e-mail: sabrina_plano@yahoo.com


Abstrak
Karakter dari suatu susku dapat dilihat dari tradisi dan budaya yang terbentuk dalam suatu permukiman dan masih menjaga local wisdom mereka. Hal ini dapat terlihat dari permukiman tradisional Suku Sasak di Dusun Limbungan Kabupaten Lombok Timur, yang menjaga rumah adat mereka dari segala perubahan. Tujuan dari studi ini adalah mengidentifikasi karakteristik non fisik sosial budaya masyarakat Dusun Limbungan, dan mengidentifikasi karakteristik fisik pola tata ruang permukiman yang terbentuk, menganalisis pola tata ruang permukiman tradisional yang terbentuk akibat pengaruh fisik dan non fisiknya, dan kearifan lokalnya, serta menentukan arahan pelestarian bagi permukiman tradisional Limbungan. Metode yang digunakan adalah diskriptif-evaluatif. Hasil studi menunjukkan bahwa konsep keruangan makro yang terbentuk dari tatanan fisik lingkungan hunian memperlihatkan adanya pembagian ruang permukiman berdasarkan guna lahan, yaitu tempat hunian di bagian tengah, dan lahan pertanian di bagian luar area permukiman. Dari hasil struktur ruang permukiman tradisional Suku Sasak Limbungan terbentuk berdasarkan konsep filosofi, yaitu konsep arah sinar mata hari, konsep terhadap Gunung Rinjani, konsep pembangunan rumah dan elemennya secara berderet dan tanah berundak-undak, dan konsep bentuk rumah yang seragam terdiri dari rumah yang berjajar (suteran). Penempatan elemen rumah (bale) berupa panteq memiliki posisi saling berhadapan dengan bale. Pola pengembangan tata ruang masyarakat Sasak di Dusun Limbungan berorientasi pada nilai kosmologi berdasarkan sistem kepercayaan dan tradisi-tradisi masyarakat yang berbasis budaya sehingga menghasilkan ruang-ruang khusus.

Kata kunci:
tata ruang, permukiman tradisional Sasak Limbungan, sosial budaya, pelestarian



Abstract
The characteristic of an ethnic group area able to be seen from the tradition and the culture that are formed in a settlement and still guard local their domestic tourist. This can be seen from the traditional settlement of the Sasak ethnic group in Limbungan village at east Lombok regency that is one responsibility at their traditional house from all changes. The aim of this research is to identify non physical of social culture characteristic of Limbungan village community, and to identify the physical characteristic of the lay out pattern of settlement that formed cause of a physical and non physical influences, and local wisdom, as well as to conclude the conservation way for the traditional Limbungan settlement. The method used in this study is descriptive-evaluative. The study shows that the spatial concept of macro space which formed from physical settlement pattern show a division of settlement space based on land use, and the settlement area is located in the middle, and farming area placed in the outside of the settlement area. From the space structure of traditional settlement of Sasak Limbungan ethnic is formed based on philosophy concept, is the concept of direction of the sun rays, the concept of Rinjani Mountain, the concept of built house and their elements in a lined-up manner and land terrace, and the concept formed house which uniform consists of lined-up house (suteran). The placed of the housing elements (bale) are form of panteq have position face each other with bale. The development pattern of spatial space of Sasak community in Limbungan village is oriented to cosmological value based on believe system and community tradition which cultural base with the result that produce special spaces.

Key words:
spatial pattern, traditional settlement Sasak Limbungan, social culture, conservation


Rina Sabrina, Antariksa & Gunawan Prayitno, 2009. Pola Permukiman Tradisional Suku Sasak Dusun Limbungan Kabupaten Lombok Timur. Jurnal Tata Kota & Daerah. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota. Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Vol. 1, No. 1, Juni, hlm 69-80. ISSN: 2085-434X.

Antariksa© 2011

PELESTARIAN LINGKUNGAN DAN BANGUNAN DI KAWASAN PEKOJAN JAKARTA

Ari Suprihatin, Antariksa, Christia Meidiana, Fadly Usman

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145, Indonesia

Telp. 62-341-567886

Email: arie_47plano@yahoo.com


Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik dan kualitas lingkungan dan bangunan kuno, menentukan faftor-faktor penyebab terjadinya penurunan kualitas lingkungan dan bangunan kuno, serta menentukan arahan pelestarian dalam melindungi lingkungan dan bangunan kuno. Metode yang digunakan adalah metode diskriptif, evaluatif, dan developmen. Hasil studi tingkat kualitas lingkungan di Kawasan Pekojan menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan kualitas, yaitu pada aspek kemudahan aksesibilitas, kesehatan, keamanan dan keselamatan, serta keromantisan. Penurunan kualitas juga terjadi pada bangunan kuno yang masih bertahan di Kawasan Pekojan. Terdapat bangunan kuno yang memilki tingkat kerusakan kecil sebanyak 11 bangunan (16%), kerusakan sedang sebanyak 55 bangunan (78%), dan kerusakan besar sebanyak 4 bangunan (6%). Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan di Kawasan Pekojan adalah faktor kurangnya peran aktif masyarakat dan faktor pergeseran fungsi kawasan. Adapun faktor-faktor penyebab terjadinya penurunan kualitas bangunan kuno yang paling utama adalah kurangnya dana yang dimiliki pemerintah, faktor pergantian kepemilikan, dan faktor kurangnya perawatan pada bangunan kuno. Arahan pelestarian lingkungan di Kawasan Pekojan terbagi menjadi tiga jenis tindakan, yaitu tindakan preservasi (lingkungan I), konservasi (lingkungan II), dan rehabilitasi atau gentrifikasi (Lingkungan III). Adapun tindakan pelestarian bangunan kuno di Kawasan Pekojan terbagi menjadi tindakan preservasi (8 bangunan), konservasi (54 bangunan), dan rehabilitasi atau restorasi (8 bangunan).

Kata kunci: Pelestarian, faktor-faktor penurunan kualitas lingkungan, bangunan kuno


Abstract

The aims of this study are to identify the character and quality of ancient environment and building, analyze and determine the factors caused degradation of ancient environment and building quality, and determine the act of ancient environment and building protection. The method used in this study are descriptive, evaluative, and development. The results of this study shows that the degradation of environment quality occur in four aspects, there are accessibility reach out, healthy, safety, and romantically. The degradation of quality occurs at the ancient building too. There are 11 buildings with little damaged (16%), 55 buildings with moderate damaged (78%), and 4 buildings with great damaged (6%). The factors that caused degradation of environment quality are less society involved in conservation and fricative environment function. The factors that caused the degradation of ancient building are less government fund, change of owner, and less treatment at the building. The act to protect the ancient environment is differences in three steps, there are preservation, conservation, and rehabilitation or gentrification. The act to protect the ancient building are preservation (8 buildings), conservation (54 buildings), and rehabilitation or restoration (8 buildings).

Key words: conservation, factors degradation of environment quality, ancient building


Ari Suprihatin, Antariksa, Fadly Usman & Christia Meidiana, 2009. Pelestarian Lingkungan dan Bangunan Kuno di Kawasan Pekojan Jakarta. Jurnal Tata Kota & Daerah. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota. Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. Vol. 1, No. 1, Juni, hlm 1-12. ISSN: 2085-434X.

Antariksa© 2011