Thursday, May 17, 2012
Sunday, April 22, 2012
Friday, March 23, 2012
Antariksa, Fadly Usman, Ika Puspitasari, Hany Perwitasari
Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Brawijaya, Malang Indonesia
The aims of this study are to identify and to analyze the changes of characteristic of Pasuruan's Chinatown through the element of area, history, socio culture, law consideration, and vernacular architecture, especially on façade and ornament of the building. The method used in this study is descriptive, evaluative, and explorative with a qualitative approach. The landmark is the Chinese temple, node is a center of activity, the district is the trading, and the path is roadways with grid systems. Objects of the research is building that can be classified into three periods of time built, the which are <1800-1840 period Empire style that has Indisch that quite famous in Indonesia since 18th century until 1840, the 1850-1890 period, the which represent two different styles the which are Voor 1900 1900 NA style and style, and from 1900 to 1945 period is more influenced by the which Romantiek 1915-1930 style. Perpetuation guide for the physical building preservation for seven buildings have high potential, conservation for 22 buildings have middle potential, and rehabilitation for 17 buildings have low potential. Perpetuation guide for the region are guidance for elements of area, activity limitation function, and make-region identity.
Keywords: characteristics, facade, ornaments, Chinatown.
Antariksa, Fadly Usman, Ika Puspitasari & Hany Perwitasari. 2012. Conservation of Chinatown Area in pasuruan. Journal of Applied Environmental and Biological Sciences (JAEBS). 2 (1):1-8. ISSN 2090-4215.
Thursday, April 28, 2011
Peunayong Chinetown Banda Aceh Post-Earthquake and Tsunami as Cultural Heritage District
Dian Kusuma Wardhani, Antariksa, Nanda Indira Sari
Department of Regional and Urban Planning, Faculty of Engineering, Brawijaya University, Malang, Indonesia
Abstract
This paper studied the Chinese ancient buildings degradation post-earthquake and tsunami and determined the direction of preservation as an effort to protect the cultural heritage of building and environment. The methodology consisted Crosstab Chi-square Analysis using the concept of Good City Form. Result was used in term of preserving Peunayong as cultural heritage district of Aceh.
Key Words: earthquake and tsunami, the ancient building, preservation, Chinatown.
Dian Kusuma Wardhani, Antariksa & Nanda Indira Sari. 2011. Peunayong Chinetown Banda Aceh Post-Earthquake and Tsunami as Cultural Heritage District. Journal of Basic and Applied Scientific Research. 1 (4): 275-282. ISSN 2090-424X.
Antariksa © 2011
Sunday, April 24, 2011
POLA PERMUKIMAN TRADISIONAL SUKU SASAK DUSUN LIMBUNGAN KABUPATEN LOMBOK
Jl. Mayjen Haryono 167, Malang 65145
Telp. 62-341-567886
e-mail: sabrina_plano@yahoo.com
Kata kunci: tata ruang, permukiman tradisional Sasak Limbungan, sosial budaya, pelestarian
Key words: spatial pattern, traditional settlement Sasak Limbungan, social culture, conservation
Rina Sabrina, Antariksa & Gunawan Prayitno, 2009. Pola Permukiman Tradisional Suku Sasak Dusun Limbungan Kabupaten Lombok Timur. Jurnal Tata Kota & Daerah. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota. Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Vol. 1, No. 1, Juni, hlm 69-80. ISSN: 2085-434X.
PELESTARIAN LINGKUNGAN DAN BANGUNAN DI KAWASAN PEKOJAN JAKARTA
Ari Suprihatin, Antariksa, Christia Meidiana, Fadly Usman
Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145, Indonesia
Telp. 62-341-567886
Email: arie_47plano@yahoo.com
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik dan kualitas lingkungan dan bangunan kuno, menentukan faftor-faktor penyebab terjadinya penurunan kualitas lingkungan dan bangunan kuno, serta menentukan arahan pelestarian dalam melindungi lingkungan dan bangunan kuno. Metode yang digunakan adalah metode diskriptif, evaluatif, dan developmen. Hasil studi tingkat kualitas lingkungan di Kawasan Pekojan menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan kualitas, yaitu pada aspek kemudahan aksesibilitas, kesehatan, keamanan dan keselamatan, serta keromantisan. Penurunan kualitas juga terjadi pada bangunan kuno yang masih bertahan di Kawasan Pekojan. Terdapat bangunan kuno yang memilki tingkat kerusakan kecil sebanyak 11 bangunan (16%), kerusakan sedang sebanyak 55 bangunan (78%), dan kerusakan besar sebanyak 4 bangunan (6%). Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan di Kawasan Pekojan adalah faktor kurangnya peran aktif masyarakat dan faktor pergeseran fungsi kawasan. Adapun faktor-faktor penyebab terjadinya penurunan kualitas bangunan kuno yang paling utama adalah kurangnya dana yang dimiliki pemerintah, faktor pergantian kepemilikan, dan faktor kurangnya perawatan pada bangunan kuno. Arahan pelestarian lingkungan di Kawasan Pekojan terbagi menjadi tiga jenis tindakan, yaitu tindakan preservasi (lingkungan I), konservasi (lingkungan II), dan rehabilitasi atau gentrifikasi (Lingkungan III). Adapun tindakan pelestarian bangunan kuno di Kawasan Pekojan terbagi menjadi tindakan preservasi (8 bangunan), konservasi (54 bangunan), dan rehabilitasi atau restorasi (8 bangunan).
Kata kunci: Pelestarian, faktor-faktor penurunan kualitas lingkungan, bangunan kuno
Abstract
The aims of this study are to identify the character and quality of ancient environment and building, analyze and determine the factors caused degradation of ancient environment and building quality, and determine the act of ancient environment and building protection. The method used in this study are descriptive, evaluative, and development. The results of this study shows that the degradation of environment quality occur in four aspects, there are accessibility reach out, healthy, safety, and romantically. The degradation of quality occurs at the ancient building too. There are 11 buildings with little damaged (16%), 55 buildings with moderate damaged (78%), and 4 buildings with great damaged (6%). The factors that caused degradation of environment quality are less society involved in conservation and fricative environment function. The factors that caused the degradation of ancient building are less government fund, change of owner, and less treatment at the building. The act to protect the ancient environment is differences in three steps, there are preservation, conservation, and rehabilitation or gentrification. The act to protect the ancient building are preservation (8 buildings), conservation (54 buildings), and rehabilitation or restoration (8 buildings).
Key words: conservation, factors degradation of environment quality, ancient building
Ari Suprihatin, Antariksa, Fadly Usman & Christia Meidiana, 2009. Pelestarian Lingkungan dan Bangunan Kuno di Kawasan Pekojan Jakarta. Jurnal Tata Kota & Daerah. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota. Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. Vol. 1, No. 1, Juni, hlm 1-12. ISSN: 2085-434X.
Antariksa© 2011